Perkembangan Perkeretaapian di Indonesia

Perkembangan Perkeretaapian di Indonesia

Perkembangan Perkeretaapian di Indonesia

Perkembangan kereta api di Indonesia sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Hasil perkebunanan yang melimpah menuntut pemerintahan Belanda untuk membangun sistem transportasi yang efisien dan cepat dalam pengangkutan hasil bumi. Hal tersebut yang membuat Kolonel JVan Der Wijk pada 15 agustus 1840 mengusulkan untuk pembangunan jaringan kereta api di Indonesia.

Kereta api pertama di Indonesia dibangun oleh NISM, N.V. (NederlandsIndische Spoorweg Maatschappij) pada tahun 1867 di Semarang dengan rute Semarang – Tanggung yang berjarak 26 km, atas permintaan Raja Willem I untuk keperluan militer di Semarang maupun pengangkutan hasil bumi ke Gudang Semarang. Perkembangan pembangunan jaringan kereta api menyebar ke wilayah lain dikarenakan Semarang tidak memiliki pelabuhan barang yang memadai dalam melayani kebutuhan akan pengiriman hasil bumi dari Indonesia. Pemerintah Kolonial Belanda sejak tahun 1876 telah membangun berbagai jaringan kereta api, dengan muara pada Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dan Tanjung Perak Surabaya.



Perkembangan pembangunan jaringan kereta api tidak hanya terpusat di Pulau Jawa saja, bahkan sampai ke Sumatera dan Sulawesi. Jalur kereta api yang dibuat dijalur luar Jawa pada masa kolonial Belanda diantaranya adalah jalur di Aceh yang menghubungkan Ulele-Kutaraja, Sumatera Barat jalur Palu AerPadang, Sumatera Utara jalur Labuan-Medang, Sumatera Selatan jalur Teluk Betung-Prabumulih, dan di Sulawesi jalur Makassar-Takalar.

Pada zaman pendudukan Jepang, Perkeretaapian Indonesia mengalami kemunduran. Dari jalur yang dulunya mencapai 6.811 km, pada 1950 berkurang menjadi sekitar 5.000 km. Meskipun demikian, pembangunan masih dilakukan, yaitu pada jalur Bayah-Cikara sepanjang 83 km, dan jalur Muaro-Pekanbaru 220 km. Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 28 September 1945 pemerintah mengambil alih penguasaan kereta api dari tangan Jepang. Sejak saat itu, teknologi dalam sarana dan prasarana perkeretaapian di Indonesia terus mengalami perkembangan. Kereta api yang awalnya menggunakan bahan bakar kayu dan batubara kini telah berbahan bakar diesel dan listrik.

Hingga saat ini, moda transportasi kereta api telah menjadi salah satu jenis transportasi darat yang cukup penting di Indonesia. Kereta api merupakan transportasi massal yang diminati oleh masyarakat dikarenakan keamanan dan kenyamanannya. Namun hingga kini perkembangan industri kereta api di Indonesia belum maksimal seperti halnya industri jalan tol yang mengalami perkembangan sangat pesat. Sampai dengan 2008 panjang lintasan rel kereta api di Indonesia mencapai 4.813,000 km atau naik 0,2% dibandingkan periode pada tahun sebelumnya. Jumlah gerbong kereta api naik 5,8% yaitu dari 4.840 unit meningkat menjadi 5.120 unit. (Indonesian Commercial Newsletter, Januari 2010). Sedangkan jumlah penumpang kereta api meningkat 10,9% dari 175 juta orang pada 2007 menjadi 194 juta orang pada 2008 dan meningkat menjadi lebih dari 202 juta orang pada tahun 2012 (Laporan Tahunan PT. KAI, 2012).

 

Baca juga Perkembangan Stasiun Kereta Api




 

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

Transportasi